Hello,This is me!

John Doe

Professional Web Designer Professional Web Developer Photography is my passion

About me

Hello

I'mJohn Doe

Developer and Startup entrepreneur

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop.

experience

Front-End Development

2012-2016

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the

UI/UX Design

2012-2016

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the

Website production

2012-2016

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the

Website maintain

2012-2016

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the

service

Easily Customised

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

MODERN DESIGN

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

RESPONSIVE DEVELOPMENT

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

USER EXPERIENCE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

3000

LINES OF CODE

50

COFFEE CUPS

324

BOOKS

1234

GIFTS

Portfolio

Lia, Life, and Love - 1

 


Cerita ini adalah fiksi, murni dari planet imajinasiku sendiri yang selalu aku kunjungi sebelum tidur. Letaknya ada di pikiranku. Hanya milikku seorang. Jadi, jika kamu menemukan cerita ini di tempat lain, harap segera lapor.

 

Boleh dibagikan tanpa izin, asal dengan menggunakan tautan, bukan screenshot atau salinan.


1. Lia


Airlia Dewi Meilani, itu nama lengkap perempuan yang menjadi pemeran utama cerita ini. Bapaknya bilang, Airlia artinya halus. Sedangkan Dewi tentu saja untuk menegaskan bahwa ia adalah anak perempuan. Dan Meilani, tidak ada arti khusus dari nama itu, bapaknya memilih nama itu semata-mata karena ada kata 'Mei' sesuai dengan bulan kelahirannya.


Panggil saja Lia. Cuma perempuan biasa. Hidup berdua dengan penuh kesederhanaan bersama sang bapak yang bekerja sebagai tukang pos.  Lihat saja kamarnya, berbeda dari gadis biasanya yang memiliki banyak hiasan. Yang mengisi ruangan itu hanyalah kasur melantai. Pernah melihat lemari pakaian anak-anak berbahan plastik yang langsung ditarik layaknya laci? Punyanya seperti itu.


Di dinding, tidak ada stiker unik, hanya ada tempelan gambar-gambar rancangan gaun yang dia buat sendiri untuk dipamerkan ke seluruh penjuru dunia suatu saat nanti, dan deretan medali dan sertifikat yang dia dapat baik dari akademik maupun non akademik seperti taekwondo. Di meja, tidak ada aksesoris lucu, make up, ataupun skin care lengkap, melainkan piala-piala. Tenang saja, dia bukanlah jenis ‘Pick Me Girl’. Tetapi semua bisa seperti itu karena dia adalah orang miskin.


Lia sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abu, kerudung putih, juga sepatu Converse yang buluk. Sebelum keluar kamar, tidak lupa ia memasukkan sebuah buku yang selalu ia bawa ke mana-mana. Itu adalah buku diari pemberian almarhumah ibunya. Di benaknya masih teringat jelas percakapan dengan sang ibu kala buku itu diberikan padanya,


“Di buku ini, kamu bisa ceritakan semua yang kamu rasakan.”

“Kenapa harus di sini? Kan, aku bisa cerita sama Ibu.”

“Karena nggak selamanya Ibu bisa menemani kamu.”


Ketika itu, Lia terlalu senang mendapat hadiah ulang tahun kelima dari sang ibu. Dia belum mengerti bahwa, ternyata itu adalah salah satu pertanda sebelum beberapa hari kemudian malaikat penjaganya itu berpulang pada Tuhan.


Oke, kembali ke kamar. Setelah semuanya siap, Lia bergegas menuju dapur, gesit menyiapkan bekal dari masakan Jahiyar: Bapak yang merupakan Supermannya. Dia bapak paling baik hati, paling selalu ingin melihatnya sukses di sekolah, dan paling ganteng sedunia meski kulitnya hitam dan sering berkeringat. Kalau soal tampilan, Lia memang merupakan cetak biru ibunya, tapi kalau soal semangat kerja keras, itu menurun dari bapaknya.


“Pak, aku berangkat dulu!”


“Pagi ini Bapak antar kamu sekolah ya.”


“Aku naik angkutan umum aja, Pak. Kalau diantar, nanti merepotkan Bapak. Waktu libur bukannya dipakai istirahat malah mau mengantar aku. Dadah Bapak! Assalamualaikum!” Sebelum Jahiyar bisa berkata apa-apa lagi, Lia sudah mengecup punggung tangannya dan melesat keluar.


Betul sekali kalau ada yang bilang Jakarta termasuk kota dengan tingkat kesibukan tinggi di dunia. Naik bus di pagi hari bagai bergabung dengan kerumunan semut. Bagi Lia, ini merupakan salah satu metode melatih kesabaran. Toh, tidak sabar pun, tetap akan macet juga.


Di tengah lautan manusia yang saling mengimpit satu sama lain, tidak sengaja Lia memergoki seorang bapak diam-diam sedang memotret paha perempuan bersetelan khas SPG yang berdiri membelakanginya. Penumpang lainnya hanya menonton perbuatan tak senonoh itu, tidak ada yang menegur, atau menolong sama sekali.


Lia paham, bukan semua tak acuh, tapi beberapa orang tidak tahu apa yang harus dilakukan, merasa akan terkena bahaya jika ikut campur, dan banyak yang berpikiran sama, “Nanti juga ada nolong.”


Itu artinya, peran Lia sangat membantu di sini. Tanpa pikir panjang lagi, meski sebetulnya juga takut, ia mendekat, berniat mengambil ponsel si bapak bertepatan dengan aksinya selesai, tetapi si bapak gerak cepat menahannya.


“Siapa kamu?!”


“Saya melihat Anda mengambil foto yang tidak pantas.”


“Mana buktinya? Jangan nuduh tanpa bukti. Nanti jatuhnya fitnah.”


Baik kalau memang maunya begitu. Lia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan video aksi kurang ajar bapak tadi dengan tangan satunya. Ya, tentu saja ia sempat merekamnya, karena pasti ada sejuta cara ia justru yang nanti malah disudutkan dengan alibi-alibi seperti sekarang. Lia adalah orang yang sedia payung sebelum hujan.


“Itu sih salah si Mbaknya saja yang pakai pakaian kurang bahan, roknya cuma selutut, bikin mengundang nafsu! Nggak ada asap tanpa api!” amuk si bapak. Lihat, bahkan sudah ada buktinya pun si bapak masih balik menyalahkan. Dia malah mengolok dan mengumpat pada perempuan itu yang kini terlihat ketakutan. Kemudian, sadar tangannya yang sedang memegang ponsel masih dicekal oleh Lia, dia lanjut mengamuk, “Aku ini orang tua. Kurang ajar kamu ya sama orang tua. Umurmu berapa?”


Entah karena jengah atau terganggu, orang-orang yang tadi cuek saja kini bersuara. “Sudahlah, Dek, biarkan saja. Pakaian terbuka memang bisa menimbulkan hasrat. Namanya juga laki-laki. Nanti kamu akan paham kalau sudah nikah. Sekarang fokus sekolah yang benar, lulus, dan banggakan orang tua.”


“Bener tuh, ini wajar karena mbaknya nggak memakai pakaian yang menutup aurat, nggak mematuhi perintah agama Islam.”


“Nah, lagian kalau seseorang berpakaian terbuka, bukankah itu artinya dia memang ingin dipandang lawan jenis?”


Lama bungkam, kini perempuan itu mencoba untuk berani bicara. Sebab makin mulut mereka dibiarkan, makin keterlaluan. Dengan suara gemetar, dia berkata lantang, “Maaf Bu, saya non muslim. Soal pakaian, sebagai SPG yang menjajakan produk otomotif, saya harus memakai seragam yang diberikan koordinator.”


Bagi Lia, klarifikasi itu rasanya terlalu sopan. Lia ingin sekali mengeluarkan kata-kata yang sudah bersarang di kepalanya, namun sebelum melakukan itu, muncul sebuah suara, “Baru-baru ini ada kasus gadis remaja dilecehkan saat sedang sholat berjamaah di masjid. Melihat kasus itu apakah pakaian menjadi tolak ukur seorang perempuan mengalami pelecehan seksual?”


Kerumunan bergeser untuk melihat dari mana asalnya. Dia seorang wanita berumur empat puluh tahunan yang karismatik. Ucapannya membuat suasana hening untuk beberapa detik, sampai akhirnya, ia melanjutkan, “Saya sudah panggil polisi.”


“Sial!” Si bapak mendorong Lia yang sedari tadi mencekal tangannya. Bus berhenti di halte tepat seberang SMA Harapan Negara—sekolah Lia—dan pintu terbuka. Si bapak berlari keluar sambil mendorong siapa saja yang menghalangi jalan membuat suasana bus jadi ricuh. Lia mengejarnya, tentu ia tidak bisa diam saja, akan ia pamerkan keahlian taekwondonya yang sudah mencapai sabuk hitam itu.


Lia lincah berlari, menyeberangi jalan, meloncati apa saja yang menjadi penghalang seperti seorang atlet gimnastik. Tanpa diduga, ia melepas tasnya dan penuh kekuatan, ia melempar benda berisikan banyak papan kayu itu—kebetulan hari ini ada latihan taekwondo. Gerakan melemparnya begitu dramatis, tas melengkung, menembak ke arah si bapak. Tepat sasaran! Sayangnya si bapak bangkit dan kabur lagi.


“Lia? Eh, Mang, berhenti dulu.” Di sisi lain, Ali, teman sekelas Lia, yang berangkat ke sekolah diantar sopirnya, melihat kejadian itu dari arah berlawanan, langsung membuka daun pintu mobilnya sewaktu si bapak sudah mulai mendekat. Membuat si bapak menabraknya dan tersungkur mencium aspal.


Lia yang sudah kembali memakai tasnya bergegas mengunci pergerakan si bapak supaya dia tidak bisa kabur lagi. Ali dan mamangnya juga ikut membantu. Tidak lama, dua polisi datang mengamankannya. Masalah beres, Lia dan Ali memutuskan mendatangi perempuan tadi yang kini terduduk dengan kondisi masih gemetar di bangku halte.


“Mbak, gapapa? Mbak pasti kaget banget tadi ya. Ini diminum dulu.” Lia membuka tas ransel, mengeluarkan botol air minum, menyerahkannya pada perempuan itu. “Sekarang sudah aman, pelakunya sudah ditangkap polisi, Mbak tenang saja.”


“Iya, saya sudah gapapa, cuma masih syok. Terima kasih banyak ya, Dek.”


“Sama-sama, Mbak. Oh ya, bisa berikan nomor ponsel Mbak?” Perempuan itu memberikan nomor ponselnya. “Oke, video rekaman saat pelaku melakukan kejadian sudah saya kirim ya untuk dijadikan barang bukti. Mbak bisa hubungi saya kalau nanti butuh kesaksian.”


Setelah tersenyum singkat, Lia lanjut jalan menuju sekolah dengan kondisi tubuh yang sebenarnya sudah gemetaran, karena tidak mudah menegur orang apalagi kasus begini. Ali yang menyadari itu, langsung bertanya,


“Kamu gapapa, Li?”


Lia menatap heran Ali, seolah berkata, “Tumben banget ini orang peduli?” Karena setahunya, Ali cuma bisa menyebalkan setiap hari, Lia sendiri juga bingung mengapa bisa berteman dengannya.


“Kenapa? Tadi aku keren banget ya sampai kamu terpesona begitu?” Baru juga dibilang, dia itu menyebalkan. Lihatlah, Ali yang memang percaya dirinya di atas rata-rata itu malah salah mengartikan tatapannya, dia mengangkat kedua alisnya, tersenyum miring bangga.


Lia menarik napas panjang. “Ali, kamu suka batu kerikil, batu bata, atau batu kali?”


“Mungkin batu kali. Bentuknya sekilas biasa saja, tapi dia dermawan banget. Walau selalu diterjang arus deras, dia tetap sukarela memberikan yang terbaik dengan berdiri kokoh tanpa mengharap balasan, manusia pun bisa aman menyeberangi sungai. Keberadaannya seolah memberitahu kita bahwa di setiap kesulitan pasti ada jalan.”


“Bodo amat, bodo amat.”


“Tadi nanya. Emang buat apa sih?”


“Buat kutimpuk ke wajahmu!”


“Enggak usah nge-gas juga kali. Heran, jadi cewek kok galak amat. Ingat ya, aku lebih tua dua tahun dari kamu loh.” Ali mengarahkan dua jarinya ke arah Lia. Lia yang pernah loncat kelas dan Ali yang telat satu tahun masuk sekolah, membuat mereka terpaut jarak usia dua tahun.


“Bangga banget ya udah tua.”


“Oh, iya, Li—”


“Diam! Enggak usah bicara lagi! Sekarang cuacanya udah panas, nggak usah nambah-nambahin panas!”


“Kena matahari di jam tujuh pagi gini bagus kok, dapat vitamin D.” Kalau sudah membahas yang berhubungan dengan hal medis, Ali seolah berada di dunianya sendiri, dan melupakan banyak hal bahkan termasuk apa yang hendak ia ingin katakan barusan.


“Eh....” Lia seolah menyadari sesuatu.


“Jam tujuh?!” Keduanya kompak terkejut, lantas berlari secepat kilat. Sesampainya di gerbang sekolah, ada banyak murid-murid lain yang terlambat juga. Mereka akhirnya dihukum lari keliling lapangan sebanyak lima putaran.


Lia meringis, mungkin bagi murid lain terlambat adalah sesuatu yang biasa. Tetapi dia murid beasiswa. Ya, dia mendapat beasiswa secara penuh dari pihak sekolah karena segudang prestasinya. Menjadi murid di sekolah menengah atas itu merupakan salah satu keberuntungan dan kebanggaan tersendiri untuknya, sebab tidak sembarang orang bisa bersekolah di sana jika bukan berasal dari keluarga yang katakanlah cukup terpandang. Dan, sekarang dia malah terlambat, seolah tidak memanfaatkan keberuntungan itu dengan baik.


“Li....” Di putaran kelima, Ali menyejajarkan langkahnya dengan Lia.


“Duh, aku kehabisan napas, nih! Jangan ajak ngomong mulu kenapa!”


“Lia....”


“Ssssst!”


“Lia, tadi aku ketemu buku ini.” Ali membuka tas, mengeluarkan sebuah buku warna putih, dan memberikannya kepada Lia. Itu buku diari.


Lia langsung berhenti, memeriksa tasnya. Risletingnya sudah terbuka dari tadi. Benar itu miliknya. “Kok bisa ada di kamu? Kamu colong dari tas aku, ya?!” Tuhan, tolong berikan kekuatan Ibu Malin Kundang sekarang juga agar laki-laki menyebalkan ini bisa aku kutuk jadi batu segera, lagi pula katanya dia ingin menjadi batu kali!


Detik selanjutnya, tanpa berpikir panjang lagi karena sudah panas entah karena matahari, entah karena menyebalkannya Ali, Lia mengejarnya dan mereka kejar-kejaran di antara murid lain yang juga sedang dihukum berlari keliling lapangan, menabrak semuanya, selayaknya pasangan di film-film romantis India. Tetapi, tolong jangan berpikiran kisah ini akan berlanjut membahas bagaimana keduanya jadi menjalin kisah cinta ala anak sekolah setelah dihukum bersama. Terlalu klise. Lagi pula, daripada pasangan, mereka lebih terlihat seperti kucing dan tikus dalam serial kartun Tom & Jerry.


“Aw! Li, bukunya tuh jatuh waktu kamu lagi lempar tas ke bapak-bapak tadi!” Ali di depan berusaha memberi penjelasan.


“Kenapa baru bilang sekarang? Pasti kamu tadi sempat baca-baca isinya, kan?!” 


“Suuzan terus. Salahku apa sih? Yang dari tadi terus memotong ucapanku siapa, huh, jadinya aku nggak bisa langsung balikin? Dan lagian dari tadi aku selalu sama kamu, kan?” 


Mendengar itu, Lia langsung terdiam. Betul juga apa yang dikatakan Ali. Sepertinya kalau tentang Ali, Lia memang hanya bisa memikirkan hal-hal negatif saja. Dan sepertinya ia harus segera merukiah diri agar tidak mudah berburuk sangka pada orang itu.


“Kalian berdua!” Suara melengking Pak Agus, guru olahraga sekaligus yang bertanggung jawab atas kedisiplinan siswa, menggema di lapangan.


Keduanya serempak berhenti dan menoleh.


Pak Agus memelotot, berdiri di pinggir lapangan, tangannya memegang penggaris kayu panjang. “Couple goals kita hari ini. Terlambat bareng, dihukum bareng. Oke, saya akan tambahkan hukuman biar semakin serasi. Silakan lari keliling lapangan lima putaran lagi.”


Lia dan Ali seketika itu juga melongo, namun pada akhirnya mereka berdua berlari lagi diiringi tawa teman-teman yang dihukum tadi. Setelah menjalani hukuman yang membuat tubuh langsung lelah, meski tidak seberapa dengan menampung malu, mereka akhirnya diperbolehkan ke kelas. Ada Bu Siti—guru matematika sekaligus wali kelas mereka—dan seorang siswi di depan papan tulis. Anaknya feminin, berbalik dengan Lia. Rambutnya panjang dikepang satu ke belakang, kulitnya putih pucat, cantik, dan senyumnya manis sekali. Hanya saja sedari tadi dia terus menundukkan kepalanya.


“Assalamualaikum, maaf terlambat, Bu.”


“Waalaikumussalam. Dari mana kalian?”


“Habis dihukum, Bu, lari keliling lapangan.”


“Hadeh. Ya sudah, silakan duduk.” Lia dan Ali segera duduk di kursi masing-masing. Bu Siti pun memperkenalkan siswi yang tadi masuk bersamanya. “Pagi ini kita kedatangan siswi baru. Mulai sekarang dia menjadi teman kalian, ya. Baik-baik sama teman baru kalian. Silakan perkenalkan diri kamu, Nak.”


“Mmm... hai... namaku Aslamiyah, kalian bisa panggil aku Mia. Terima kasih.”


Salah satu murid mengangkat tangannya. “Cuma itu doang? Dari sekolah mana?”


Mia hanya diam. Bu Siti tiba-tiba mengambil alih. “Mia homeschooling. Terakhir bersekolah di sekolah umum waktu SD. Itu membuatnya harus belajar beradaptasi lagi dari awal. Makanya, mohon bimbingan kalian ya, untuk Mia.”


Langsung terdengar suara bisik-bisik dari sepenjuru ruangan.


“Baiklah.” Bu Siti mendekati Mia dan berkata pelan. “Kamu bisa duduk di sana.”


Mia mulai berjalan ke satu-satunya meja yang kosong, di samping Lia. Ia duduk di sana, menaruh tas, dan mengeluarkan alat tulis dengan pandangan yang masih terus menunduk sementara beberapa murid masih memperhatikannya.


“Kalau ada yang bicara buruk tentangmu, santai saja, ya. Tidak usah dipikirkan. Karena sebenarnya mereka sedang memperlihatkan keburukan mereka sendiri. Sudah tahu menggosip adalah hal buruk, tapi masih tetap saja dilakukan, bahkan secara terang-terangan.” Lia berbisik, lantas seolah teringat sesuatu, dia mengulurkan tangan. “Ah, hai, selamat datang di sekolah ini. Salam kenal. Aku Airlia, tapi panggil aja Lia. Senang bertemu denganmu!”


“Mia....” Mia membalas.


“Ali....” kontan keduanya menoleh dan melihat Ali tersenyum yang membuat lekuk sabit di pipinya terlihat, melambaikan tangan, ikut-ikutan memperkenalkan diri pada Mia. “Hai. Iya, selamat datang di sekolah ini. Jangan kaget kalau dapat tugas seabrek. Oh ya, hati-hati sama Lia, nanti bisa diterkam.”


Lia langsung memelotot dan menunjukkan kepalan tangan. Ali akhirnya kembali duduk menghadap depan, memperhatikan Bu Siti yang mulai mencoret-coret papan tulis dengan banyak rumus.


“Hati-hati sama Ali, lesung pipinya ada pelet.”


Lia, life, and love

Lia, perempuan biasa yang bermimpi menjadi seorang perancang busana. Dalam berjuang atas mimpinya itu, ia juga menghadapi rumitnya cinta segitiga dengan Mia dan Ali. Tiga hati yang awalnya menyatu atas nama persahabatan, tiba-tiba jadi saling pergi.


Kisah tentang romansa, persahabatan, dan perjuangan meraih mimpi yang dimulai saat mereka masih nothing, hingga menjadi something.


Kamu bisa membacanya di sini

Tips Belajar Bagi yang Tidak Suka Membaca

Sumber Foto: Pinterest

Baru baca satu lembar, eh ngantuk. Baca lagi sambil memaksakan kedua mata untuk tetap melek, eh ketiduran. Itulah yang membuat kita akhirnya malah enggak jadi belajar, aku yakin kamu pernah mengalaminya.


Permasalahan seperti itu baru aja mendatangiku kemarin, saat menjelang Penilaian Tengah Semester (PTS). Ya begitulah, namanya juga malas, datang tanpa kenal waktu. Memang sangat meyusahkan, meresahkan, dan membagongkan. Wkwkwk.

Nah, tips-tips belajar ini aku kumpulkan dari pengalaman pribadiku saat itu. Di era teknologi seperti zaman sekarang gini, enggak ada alasan buat enggak belajar. Langsung to the point aja deh, berikut tips-tipsnya:

1. Dibacain sama Microsoft Word aja!

Yups, nantinya materi yang ingin kamu pelajari akan dibacakan oleh Microsoft Word. Bisa dikatakan ini adalah cara belajar dengan listening atau mendengarkan. Kamu cukup mendengarkan saja sambil memahami atau mencatat yang sekiranya penting, mantaps deh. Terlebih lagi, tersedia dua pilihan suara lho, yaitu suara laki-laki dan suara perempuan.

Gimana sih caranya?

1. Siapkan terlebih dahulu file materi yang ingin dibacakan dalam format word (doc atau docx).
Kalau aku, karena malas ngetik, jadinya aku unduh file pdf buku paket yang sesuai dengan buku paket sekolahku dari internet. Kemudian aku potong pdfnya dari halaman sekian sampai halaman ke sekian. Kan enggak mungkin tuh satu buku mau dibacakan semua, yang ada nanti kita malah jadi mabuk.
Setelah itu, karena filenya masih format pdf, aku ubah menjadi format word menggunakan aplikasi pdf to word yang bisa kamu unduh secara gratis di playstore.

2. Buka file materi yang sudah disiapkan tadi di aplikasi Microsoft Word.

3. Klik titik tiga di pojok kanan atas, kemudian klik baca dengan lantang.
Materimu pun akan langsung dibacakan oleh Micsrosoft. Untuk memilih jenis suara, kamu hanya perlu mengklik tombol seperti foto di bawah ini. 
Nanti akan ada pilihan paket suara, tersedia dua, yaitu suara laki-laki dan perempuan.

Kalau kamu sukanya suara ala-ala google translate, aku merekomendasikan untuk pakai suara perempuan. Tapi kalau kamu sukanya suara manusia yang nyata ketimbang yang dibuat-buat kayak janji manis dia padamu, aku merekomendasikan untuk pakai suara laki-laki.

Aku pribadi lebih suka opsi kedua, karena suaranya tuh benar-benar seperti suara Pak Guru yang sedang mengajar di kelas, jadi belajarnya pun makin konsentrasi deh.

4. Selamat belajar.


2. Belajar sambil bermain di Quizlet

Quizlet adalah aplikasi belajar dengan flashcard. Kamu bisa buat flashcard kamu sendiri dan pelajari atau pilih jutaan set yang sudah dibuat oleh pengguna lain. Seru deh pokoknya.

Omong-omong ini bukan sponsor ya, teman-teman. Aku merekomendasikan aplikasi ini karena murni benar-benar suka. Lagian memangnya siapa diriku ini? :"

Gimana sih cara menggunakan aplikasi ini?

1. Cari atau buat flashcard.

Kalau mau belajar menggunakan flashcard yang sudah dibuat oleh pengguna lain tanpa perlu ribet, kamu hanya perlu mencarinya saja di pencarian. Cari berdasarkan kata kunci, mata pelajaran, dan judul untuk menemukan set yang sangat berguna berisi materi yang kamu pelajari.

Tapi kalau kamu mau belajar menggunakan flashcard sendiri karena materi yang kamu cari enggak ada atau kurang lengkap, begini cara buatnya:

  1. Masuk ke aplikasi quizlet.
  2. Daftar atau log-in terlebih dahulu.
  3. Tekan tombol + di bawah
  4. Pilih buat set bahan pelajaran.
  5. Tulis Judul.
  6. Mulailah mengisikan set kartu. Sebagai contoh, karena aku ingin membuat kuis, aku mengisikan bagian istilah dengan pertanyaan dan bagian definisi dengan jawaban dari pertanyaan itu.
  7. Kalau sudah, klik tombol centang di bagian pojok kanan atas. 

Kamu bisa membagikan set kartu yang sudah dibuat ke teman-temanmu melalui email, tautan, atau Google Classroom. Ingat, ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekadar menambah wawasan dan kepintaran ya, teman-teman. Setelah kamu membuat beberapa set, kamu juga bisa menambahkannya ke folder. Inilah tampilan saat falshcard kamu sudah selesai.
2. Mulailah Belajar.
Sekarang, waktunya gunakan mode belajar Quizlet: Pelajari, Flashcard, Tulis, dan Tes dengan set pelajaran kamu. Kamu bisa lihat seperti foto di atas.

  1. Pelajari. Bagian ini berisi tentang sekumpulan pertanyaan pilihan ganda terkait dengan materi yang sudah kamu buat dalam set kartu.
  2. Flashcard. Bagian ini berisikan kartu set yang sudah kamu buat sebelumnya. Kamu akan menghafal isian kartu.
  3. Tulis. Bagian ini memberikan kuis dan menulis jawaban yang benar berdasarkan kosa kata dalam set kartu.
  4. Tes. Bagian ini merupakan tes yang akan merangkum semua materi dalam set kartu.
  5. Mencocokkan. Bagian satu ini merupakan kesukaanku, yaitu games dengan cara mendrag item yang cocok satu sama lain untuk membuat item tersebut hilang.

Menarik, bukan? Apalagi aplikasi ini enggak berbayar alias gratis, dan user-friendly banget alias mudah digunakan. Berikut tadi adalah fitur-fitur yang tersedia di aplikasinya. Kalau kamu membuka di webnya mungkin fiturnya akan ada lebih banyak lagi, gitu sih yang aku lihat di blog orang-orang, aku juga kurang tau.

3. Selamat belajar.



Silakan dicoba untuk membuat belajar kamu yang kurang suka membaca buku menjadi lebih seru dan menarik. Tapi meski begitu, jangan lupa juga untuk tetap berusaha menumbuhkan minat baca ya, teman-teman.

“Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak hal yang akan kamu ketahui. Semakin banyak kamu belajar, semakin banyak tempat yang akan kamu kunjungi.” - Dr. Seuss

Bila ada tambahan atau seputar pertanyaan, bisa dituliskan di kolom komentar atau DM ke instagram aku @intanrahmawatix, jangan sungkan okeii. Terima kasih dan semoga membantu.

Salam,

Intan Rahmawati.

Menjaga Kebersamaan dalam Keberagaman dengan Toleransi


sumber: pinterest
Sumber Foto: Pinterest

Negara Kesatuan Republik Indonesia terwujud karena sikap toleran warga negaranya.

Tahukah kamu bahwa Indonesia memiliki suku bangsa terbanyak di dunia? Indonesia memiliki lebih dari 400 suku bangsa, dan ratusan bahasa lokal di Indonesia. Wow! Banyak sekali, ya.

Kita mesti bangga memiliki suku, bahasa, dan budaya yang beragam. Keberagaman suku, bahasa, dan budaya merupakan kekayaan dan keindahan bangsa yang tidak ternilai harganya. Hal ini juga menjadi daya tarik bangsa asing untuk datang ke Indonesia. Bahkan, bangsa asing saja banyak yang berebut belajar budaya daerah kita, lho, teman-teman.

Permasalahan Keberagaman di Indonesia

Di balik semua itu, keberagaman di Indonesia juga rentan terhadap masalah. Perbedaan suku bangsa, bahasa, dan budaya dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah, contohnya seperti putusnya pertemanan, perkelahian antarpelajar, munculnya rasisme, dan masih banyak contoh lainnya. Padahal, apa pun sukunya, bahasanya, dan budayanya, kita tetaplah merupakan saudara setanah air yang harus tetap menjaga kebersamaan.

Menjaga Kebersamaan dalam Keberagaman

Keberagaman yang ada di Indonesia bisa menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa jika kita memiliki sikap toleransi dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia memiliki semboyan "Bhineka Tunggal Ika", yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Walaupun kondisi masyarakat Indonesia beragam suku bangsa, bahasa, dan budaya namun tetap merupakan keluarga besar bangsa Indonesia di bawah naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika sehingga kita harus menjaga kebersamaan.

Dalam menjaga kebersamaan, kita perlu mengembangkan sikap toleransi. Kita dapat memulainya dari lingkungan sekitar. Misalnya, dalam keluarga mau menghargai kesukaan anggota keluarga yang lain, dan dalam sekolah mau menghargai pendapat teman-teman saat berdiskusi kelompok.

Saya pun juga sedang belajar melakukan itu. Bersama, mari kita kembangkan sikap toleransi untuk memperoleh kebersamaan dalam keberagaman.

Bagaimana Cara Kamu?

Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba "Indonesia Baik" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

testimonial

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Larry Page

CEO of Google

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Steve Jobs

CEO of apple

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Mark Zuckerberg

CEO of facebook

JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia

SEND ME A MESSAGE

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.